FGD, Peneliti Hamzanwadi Rumuskan Model Ekonomi Hijau Pascabencana di KEK Mandalika

Dutarakyat.com – Tim peneliti penerima Hibah Penelitian Fundamental Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 dari Universitas Hamzanwadi menggelar Focus Group Discussion (FGD.

Hal ini digelar untuk merumuskan model ekonomi hijau sebagai strategi transformasi pariwisata berkelanjutan pascabencana di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Kegiatan berlangsung di JM Hotel Kuta Lombok, Sabtu (18/7/2026).

FGD mengangkat tema "Model Ekonomi Hijau Integratif untuk Transformasi Pariwisata Berkelanjutan Pascabencana: Studi Kasus KEK Mandalika, Lombok" sebagai bagian dari pengumpulan data Penelitian Fundamental Reguler Kemendikbudristek Republik Indonesia Tahun 2026.

Forum tersebut menghimpun perspektif pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan model pembangunan pariwisata yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Penyusunan model tersebut berangkat dari pengalaman Lombok menghadapi dua krisis besar, yakni gempa bumi tahun 2018 dan pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia sehingga semua destinasi sepi kunjungan.

Kedua peristiwa itu memberikan dampak luas terhadap sektor pariwisata, aktivitas ekonomi masyarakat, serta keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan penyangga destinasi wisata.

FGD melibatkan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pariwisata, ITDC Mandalika.

Forum itu juga melibatkan tujuh desa lingkar KEK Mandalika di Kecamatan Pujut, perwakilan BUMDes, Pokdarwis, pengelola homestay, pelaku UMKM, serta akademisi. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan diharapkan memperkaya data dan memperkuat relevansi model yang sedang disusun.

Anggota tim peneliti Fahruddin, Ph.D mengatakan pengalaman menghadapi gempa bumi dan pandemi menjadi pelajaran penting, pembangunan kawasan wisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan atau pertumbuhan ekonomi. Kawasan wisata juga harus memiliki ketahanan terhadap berbagai risiko bencana dan krisis.

Menurutnya, berbagai kebijakan pemulihan yang dilakukan pemerintah setelah bencana telah mampu membangkitkan kembali aktivitas pariwisata di Mandalika. Namun, momentum tersebut perlu diikuti dengan penataan ulang (resetting) arah pembangunan agar kawasan wisata lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

"KEK Mandalika merupakan destinasi pariwisata strategis nasional dengan potensi yang sangat besar. Namun, kawasan ini juga memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana dan berbagai krisis. Karena itu, diperlukan model pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan ketahanan kawasan," ujar Fahruddin.

Ia menjelaskan model ekonomi hijau yang sedang dikembangkan dibangun melalui tiga indikator utama, yaitu keberlanjutan lingkungan, diversifikasi ekonomi lokal, dan penguatan nilai sosial budaya masyarakat. Ketiga indikator sebagai fondasi menciptakan sistem pariwisata yang lebih tangguh sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

Menurut Fahruddin, perlindungan lingkungan menjadi prasyarat utama untuk menjaga keberlanjutan destinasi wisata. Sementara itu, diversifikasi ekonomi lokal diperlukan agar masyarakat tidak bergantung pada satu sektor usaha, sedangkan penguatan nilai sosial budaya menjadi modal penting dalam mempertahankan identitas lokal di tengah berkembangnya industri pariwisata.

Selama FGD, peserta juga membahas sejauh mana ekonomi hijau mampu mempercepat pemulihan kawasan pascabencana. Diskusi difokuskan pada kontribusi ekonomi hijau dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, meningkatkan daya saing destinasi wisata, memperluas peluang usaha berbasis potensi lokal, serta mendukung kebijakan pembangunan yang lebih ramah lingkungan.

Fahruddin menegaskan penelitian ini tidak hanya bertujuan menghasilkan luaran akademik, tetapi menyusun model yang dapat diterapkan sebagai rujukan kebijakan bagi pemerintah daerah dan pengelola kawasan wisata dalam membangun destinasi yang lebih berkelanjutan.

"Melalui penelitian ini kami ingin menghadirkan model ekonomi hijau yang dapat menjadi acuan dalam transformasi pariwisata pascabencana. Pembangunan kawasan wisata harus mampu menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian nilai sosial," tegasnya.

Ia menambahkan, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah mengenai kontribusi ekonomi hijau terhadap percepatan pemulihan kawasan pascabencana sekaligus menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan pembangunan pariwisata di KEK Mandalika.

Melalui penelitian ini, tim peneliti Universitas Hamzanwadi berharap lahir model ekonomi hijau integratif yang mampu memperkuat ketahanan kawasan wisata, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong terwujudnya transformasi pariwisata yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di KEK Mandalika.